Skip to content

Makassar Layak Jadi Water Front City

LANGKAH Pemerintah Kota (Pemkot) menjadikan Makassar sebagai kota dunia, patut diacungi jempol. Selain sudah mendapat legitimasi dunia, potensi yang dimilikinya tidak kalah dengan negara lainnya. Salah satu yang menjadi kebanggaan dan mendapat nilai jual, yakni keberadaan Pantai Losari yang dianggap bisa menjadi ikon dunia,khususnya Makassar, sebagai water front city (kawasan pantai).


Tidak mengherankan,di World Cities Summit 2010, 28 Juni–1 Juli, Singapura, kawasan Losari sudah banyak yang mengenalnya. Di bawah kendali Ilham Arief Sirajuddin dan Supomo Guntur,kawasan ini perlahan menjadi bidikan kota dunia lainnya, yang bisa menarik wisatawan asing untuk berkunjung. Saat ini di Losari, sudah dibangun satu anjungan dari tiga anjungan yang direncanakan.

Dua lainnya saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Mantan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Pemerintahan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur),Andi Erna Anastasjia Walinono, atau akrab disapa Erna Witoelar, mengaku sangat mengagumi Losari yang memiliki potensi dikembangkan dan sudah dikenal dunia. Ditemui di sela-sela World Cities Summit 2010 di Sundec Singapura, perempuan kelahiran Kabupaten Wajo ini,ikut merasa bangga, dengan keberadaan Losari di Makassar yang merupakan aset besar dan menjadi daya tarik tersendiri.

“Makassar water front city yang bisa menjadi andalan di kawasan timur Indonesia. Ini yang harus kami jaga bersama,” tutur Erna, sesaat sebelum tampil sebagai pembicara di forum yang membahas mengenai masalah air kemarin. Erna, yang saat ini menjabat Wakil Ketua Asia Pasifik Water Forum,menyatakan,tidak diragukan lagi bahwa para wisatawan banyak yang senang dengan kawasan pantai.“Nah,Losari sudah memiliki banyak daya tarik itu.

Tidak banyak kota yang memiliki pantai yang view-nya bisa melihat sunset. Ini hal yang bisa dibanggakan,” ujarnya, yang banyak berkecimpung di masalah lingkungan. Karena itu, agar lebih memberdayakan water front city itu, Makassar perlu banyak belajar dalam kegiatan di pertemuan World Cities Summit. Pasalnya, banyak hal yang bisa dipelajari dan diterapkan di pembangunan berkelanjutan di Kota Makassar.

“Jangan cepat puas dengan apa yang kita dapat. Ini juga salah satu motivasi yang dimiliki Pemerintah Singapura.Mereka selalu berupaya mengembangkan potensi kota dan tidak cepat puas. Saya harap Makassar seperti itu,”ungkapnya. Hanya, yang menjadi kendala di Indonesia saat ini, termasuk di Makassar, yakni sanitasi air yang masih tertinggal jauh dibandingkan kota dunia lainnya. Maka, salah satu tugas berat pemerintah, harus meminimalisasi pembuangan kotoran di sungai dan laut.

Sementara itu, pada hari kedua World Cities Summit,tercatat sekitar 800 delegasi dari 58 negara di dunia melakukan serangkaian kegiatan, khususnya membahas masalah perairan. Tema yang diusung adalah Sustainable Cities: Clean And Affordable Water. Forum itu memfokuskan penggunaan teknologi, kualitas air, dan panduan guna mendapatkan air yang baik dan aman.Termasuk membicarakan tentang infrastruktur pendukung penyediaan air bersih yang aman.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, yang juga hadir di forum tersebut, menyatakan banyak mendapat pengalaman dan pelajaran berharga untuk mengembangkan kawasan pantai. Soal Losari, dia memang memandangnya telah menjadi salah satu kawasan pantai yang memiliki potensi besar. Saat ini masyarakat Kota Makassar harus menjaga kebersihan kawasan itu.

“Dari dulu memang kami ingin kembangkan kawasan itu menjadi salah satu water front city. Karena itu, tugas kita bersama, yakni menjaga dan ikut membersihkannya,” tandasnya. Berdasarkan pantauan, selain hadir di pertemuan itu, dia beserta rombongan, yang terdiri atas staf ahli bidang tata ruang dan ekonomi, Kepala Dinas PU Makassar Ridwan, Kepala Dinas Tata Ruang Andi Oddang,

serta pejabat Bappeda Ismail, dan beberapa kepala SKPD lainnya,juga menggelar pertemuan khusus dengan salah satu pimpinan perusahaan ternama di dunia. Selasa (29/06) malam, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew di Suntec,menjamu beberapa wali kota, termasuk Ilham. Di tempat itu, Lee berbagi pengalaman mengenai pembangunan kota yang berkelanjutan.(*)

Makassar Kota Dunia

Makassar, Tribun : Pemerintah terus mengembangkan kawasan selatan Kota Makassar yang berbatasan dengan Kabupaten Gowa, termasuk kawasan Barombong.

Para pengusaha properti semakin melirik kawasan tersebut, apalagi menyusul pembangunan akses jalan alternatif dari Barombong melalui Taeng (Gowa) tembus ke Jl Daeng Tata (Makassar) hingga ke Jl AP Petterani melalui Jl Mannuruki.
Wakil Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel Haris Hody dan Kepala Bagian Humas Pemkab Gowa Arifuddin Saeni secara terpisah membenarkan rencana tersebut saat dikonfirmasi terpisah, Rabu (14/7).
“Kalau jembatan dari Jl Dg Tata (Makassar) ke Taeng dan Tamanyyeleng (kecamatan Pallangga, Gowa) sudah ada maka akan membuka akses ke Barombong,” kata Haris yang juga Dirut Perusda Sulsel.
Pengembang PT GMTD yang mengembangkang kawasan Tanjung Bunga bermitra dengan Perusda Sulsel membanguna kawasan perumahan terpadu R2000 di kawasan Barombong.
Sementara Arifuddin mengatakan, pihak Pemkab Gowa sangat mendukung upaya pembukaan akses jalan alternatif tersebut. “Sekarang tinggal bagaimana mengomunikasikan antara Pemkab Gowa dengan Pemkot Makassar,” kata Arifuddin.
Sebelumnya, pemerintah juga berencana membuka akses dari Gowa melalui Antang hingga ke Tamalanrea dan pad akhirnya jalan lingkar ini akan tembus ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan membelah Bumi Tamalanrea Permai.
Beberapa pihak sudah membangun rumah toko di sekitar lokasi yang akan dijadikan jalan dengan lebar 20 meter tersebut. “Sejak dikabarkan akan jadi ring road, lahan di kawasan ini langsung ramai diincar,” kata seorang warga bernama Ny Sari.
Sudah Direncanakan
Arifuddin Saeni mengatakan, rencana pembangunan jembatan dan jalan alternatif Taeng-Jl Daeng Tata sudah lama direncanakan Pemkab Gowa.
Namun, bila Pemkot Makassar juga berkeinginan sama, maka tinggal dilakukan pembicaraan lanjutan. “Sepanjang itu menguntungkan dan memberikan manfaat cukup besar bagi masyarakat, tidak ada masalah. Namun yang perlu diperhatikan, kedua belah pihak (Makassar dan Gowa) perlu berbicara lebih lanjut karena merupakan interkonesitas antara dua daerah,” jelas Arifuddin per telepon, tadi malam.
Menurutnya, masalah jalan tembus tersebut bukan hanya soal jembatan, tapi akses jalan yang menghubungkan. Tapi pada dasarnya, masyarakat dan pemerintah di Butta Bersejarah ini menyambut baik rencana itu.
Apalagi nantinya bila sudah terwujud, tambah Arifuddin, jalur ini akan menjadi pintas dan jalan alternatif jika terjadi kemacetan di Jembatan Kembar Sungguminasa yang menghubungkan Makassar dengan Sungguminasa
Bila jalan tembus ini dibangun maka sudah ada lima jalur yang menghubungkan Makassar-Gowa. Jalan yang sudah berfungsi saat ini adalah jalur utama melalui Jl Sultan Alauddin, melalui Jl Metro Tanjung Bunga, melalui Jl Hertasning Baru, dan melalui Antang (Kassi-kassi) tembus ke Samata hingga ke Pattalassang.
Pembebasan Lahan
Beredar kabar Pemkot Makassar sudah mempersiapkan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tembus Taeng-Jl Daeng Tata hingga ke Jl Pettarani. Beberapa warga di sekitar BTN Tabaria di Jl Mannuruki sudah diajak berdiskusi.
Namun belum diketahui hasil negosiasi yang disebut-sebut sudah dilakukan terhadal 20 pemilik rumah. “Sudah pembicaraan dengan pihak kelurahan dan kecamatan tapi belum sampai pada kesepakatan ganti rugi,” kata sumber Tribun.
10 Menit
Selama ini akses ke kawasan Barombong dan sekitarnya melalui dua pilihan. Pertama dari jalan poros Makassar-Takalar melalui Jl Sultan Alauddin dan Sungguminasa.
Sementara akses kedua adalah melalui pantai barat Makassar dengan menyusuri perumahan Tanjung Bunga hingga melewati jembatan Sungai Jeneberang.
Bila jembatan yang membelah Sungai Jeneberang di Taeng dibangun permanen seperti di kawasan Tanjung Bunga maka sedikutnya 20-an kawasan perumahan di bantaran Sungai Jeneberang dan Barombong di Palangga akan terbuka lebar.
“Ini juga akan mengurai kemacetan dan kepadatan lalu lintas dari jalur timur Makassar-Gowa (Jl Sultan Alauddin),” ujar Haris yang juga alumnus fakultas teknik Unhas ini.
Hanya saja, sejauh ini katanya, dia belum mengetahui tahapan pembicaraan dan rencana pembukaan jalan akses yang menghubungkan Makassar-Gowa di bagian tengah ini.
Dia mengatakan, infrasturuktur dan akses jalan ke kawasan ini sangat dekat dengan kota Makassar. “Kalau ada jembatan tembus di Jl Dg Tata dengan Taeng maka Makassar-Gowa, Barombong hanya berjarak sekitar 1-3 km dan bisa ditempuh dalam 10 menit.
Ini berbeda dengan kawasan pemukiman timur kota di Biringkanaya dan Tamalanrea yang akses terdekatnya 15 km yang sudah mulai macet.
Digambarkan, kondisi alam wilayah Barombong bagian dalam, seperti Taeng, Tamanyala masih asri. Ada Sungai Jeneberang, kawasan persawahan dan ladang warga yang masih, kawasan pantai, serta danau buatan dari Tanjung Bunga.”Ini adalah syarat utama sebuah kawasan pemukiman kota.”
Dalam gambarannya, Haris mengatakan, site plan pengembangan Kota Makassar yang mengarah ke pantai barat dan selatan, membuat nilai harga jual tanah di kawasan itu meningkat.
300 Persen
Tahun 2008, saat proyek R 2000 dicetuskan, harga lahan di kawasan Barombong dalam sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.
Saat ini, sejak kuartal pertama 2010, atau dua tahun setelah jalannya proyek itu, harga lahan termurah sudah Rp 150 ribu atau naik 300 persen.
Haris menyebutkan, harga tanah satuan meter persegi itu adalah harga pasaran dari pemilik warga dan developer dan kepada konsumen.
Menurutnya, saat manajemen Perusda menjajaki pengembengan kawasan baru di selatan dan pantai barat Makassar itu, Perusda hanya sebagai pengembang. “Negosiator harga adalah pemerintah,” katanya.(han/mel/ute/fir)

PANTAI LOSARI dan Kota Tua MAKASSAR

Makassar adalah kota berciri khas pantai dengan kehidupan pesisir sebagai vocal point, representasi atas karakter kota secara makro. Pantai losari adalah salah satu bagian yang dikenal orang karena sebenarnya kawasan sepanjang tepian air ini merupakan genius loci. Disepanjang pantai ini telah terukir sejarah dan simbol kehidupan yang tidak terpisahkan dengan catatan hidup masyarakat kota Makassar

Kota Makassar yang dirubah namanya sejak tahun 2000 dari Kodya Ujung Pandang, bercikal bakal dari daerah pesisir pantai yang banyak ditumbuhi daun pandan. Kota Makassar kemudian dikenal sebagai kota “Angin Mamiri” yang artinya “kota hembusan angin sepoi-sepoi”, dan juga diidentikkan dengan “pantai Losari” yang indah. Pantai Losari adalah pusat hiburan kota yang tidak pernah tidur. Pantai ini mulai menampakkan kehidupan aslinya di sore hari, saat itulah ia menyandang sebutan meja terpanjang. Di meja ini pengunjung dapat menikmati aneka hidangan sambil menikmati kesejukan hembusan angin laut dan matahari terbenam.

Geografis Kota Makassar dengan gugusan pulau-pulaunya menghasilkan kehidupan penduduk yang kental akan nuansa bahari. Sisi kehidupan tradisional dan modern tergambar disepanjang pesisir pantai kota. Uniknya suasana pantai Losari menyajikan representasi gambaran kehidupan tersebut. Kawasan pantai Losari merupakan bagian wilayah kota yang melekat fungsi-fungsi kompleks dalam morfologinya yakni sebagai heritage area, Central Bussiness District dan tempat wisata.

Sebenarnya kota tua Makassar tidak semata berpusat di pantai Losari. Di dua bagian lain masih dipesisir yang sama yakni bagian Utara dan diujung Selatan-nya terdapat situs benteng dengan karakter yang berbeda. Diujung Selatan terdapat sisa-sisa benteng Somba Opu sedang dibagian Utara masih berdiri kokoh benteng Port Roterdam, tempat ditawannya Pangeran Diponegoro selama diasingkan. Benteng Port Roterdam inilah yang menjadi nyawa klasik bagi pantai Losari. Di depan benteng ini tetap bertahan terminal perahu kecil yang dapat membawa penumpang kebagian pantai dan laut manapun termasuk pulau-pulau disekitar kota.

Sebelum dikenal sebagai Losari, warga Makassar menyebutnya Pasar Ikan. Dimasa itu banyak pedagang pribumi yang berjualan. Dipagi hari dimanfaatkan sebagai pasar ikan, sedangkan di sore hari dimanfaatkan pedagang lainnya untuk berjualan kacang, pisang epe dan makanan ringan khas Makassar lainnya.

Apa sebenarnya yang menarik dari fisik Pantai Losari? Infrastruktur utamanya sendiri adalah jalan besar bernama Penghibur yang disisinya dibangun pembendung air berupa turap beton memanjang. Diantara jalan raya dan batas air terdapat Promenade berlatar pulau dan laut selat Makassar dan dibawahnya merupakan outlet buangan kota. Dalam kilasan sejarah Pantai Losari terlihat bahwa konsep ini sudah bertahan selama 59 tahun.

Diawali tahun 1945, bangunan tambahan pantai yang pertama dibuat. Desain lantai dasar beton sepanjang 910 meter digagas oleh Pemerintah Wali Kota Makassar, DM van Switten (1945-1946). Dimasa pemerintahan NICA tersebut, pemasangan lantai ditujukan untuk melindungi beberapa objek dan sarana strategis warga di Jalan Penghibur dari derasnya ombak selat Makassar.

Tahun 2000 dilakukan penimbunan laut dengan maksud sebagai jalan dan tempat komersil. Selanjutnya tahun 2001 populasi pedagang kaki lima yang makin banyak kemudian direlokasi ke daerah reklamasi. Mulai terlihat pertumbuhan bangunan lain disepanjang pantai yang merangsak kearah laut.

Tahun 2010, kawasan pantai losari akan diramaikan bangunan-bangunan bernuansa futuristik; perumahan resort elit, gedung konvensi, mal, studio stasiun TV ala disneyland dan terakhir Center Point of Indonesia

Makassar Menuju Kota Dunia

wajah kota makassar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.